Troubleshooting

Troubleshooting dapat diartikan sebagai pendekatan sistematis yang dilakukan untuk menyelesaikan isu/permasalahan. Dalam dunia industri troubleshooting adalah hal yang penting untuk memastikan suatu proses dapat berjalan dengan aman dan sesuai kebutuhan. Ketika suatu perangkat mengalami kerusakan, maka proses akan terhambat. Jika proses ini merupakan proses manufaktur maka produksi barang akan menjadi menurun. Hal ini sangat merugikan dan perlu segera diatasi.
Troubleshooting juga sering dibutuhkan ketika melakukan pemasangan suatu perangkat atau sistem. Pembangunan atau pembuatau suatu sistem yang melibatkan banyak pihak akan mengakibatkan semakin besar kemungkinan terjadi human error. Tidak jarang ditemukan troubleshooting perlu dilakukan karena kesalahan instalasi, seperti pemasangan kabel yang tidak sesuai sehinga mengakibatkan jaringan menjadi tidak stabil atau lebih buruk lagi tidak ada koneksi sama sekali. Mengetahui titik permasalahan menjadi awal untuk dapat segera menyelesaikan permasalahan seperti ini. Troubleshooting merupakan sebuah seni yang membutuhkan banyak keterampilan yang perlu dipelajari dan didukung oleh kemampuan dan pengalaman.

Banyak perusahaan yang menyadari bahwa meningkatnya penggunaan automasi tidak serta merta mengakibatkan pengurangan tenaga kerja operator lapangan. Hal ini disebabkan banyak pekerjaan yang bersifat operasional mengalami perubahan dari yang bersifat rutinitas menjadi pekerjaan yang berfokus pada troubleshooting.

Alur troubleshooting
  1. Menentukan dasar masalah yang mendasari kebutuhan troubleshoot : hal ini terkadang dapat menjadi sulit jika proses yang ada besar, kompleks, dan saling terhubung dengan berbagai keseimbanga material dan energi. Proses troubleshooting sering kali berawal ketika adanya proses alarm yang memperingatkan adanya kondisi tidak normal seperti kelebihan tekanan, temperatur, hilangnya koneksi jaringan, dan lain-lain.
  2. Pengumpulan informasi pendukung : mengumpulkan data yang dapat membantu mengetahui penyebab permasalahan secara jelas. Dalam hal ini penggunaan sistem monitoring yang dapat memantau jalannya proses akan sangat membantu. Sistem monitoring seperti SCADA dapat digunakan untuk memberikan peringatan derta mengumpulkan data yang dapat digunakan seandainya masalah yang sama muncul di masa mendatang.
  3. Analisis informasi: menganalisis data untuk menemukan akar permasalahan untuk menentukan apakah informasi yang sesuai untuk dapat menawarkan solusi pada masalah yang terjadi. Penalaran berbasis kasus umumnya akan dilakukan oleh operator untuk menentukan apakah masalah dapat diatasi dengan solusi yang sama pada kasus serupa yang pernah ditangani. Hanya saja terkadang hal ini malah menyebabkan operator menjadi tidak melihat permasalahan secara keseluruhan karena adanya kesamaan dengan kejadian serupa yang pernah dialami. Akibatnya solusi yang ditawarkan hanya akan menjadi waktu yang terbuang karena permasalahan tidak diidentifikasi secara menyeluruh. Jika gambaran besar masalah mudah dibagi, bagi masalah menjadi dua dan tentukan bagian mana yang masih memiliki masalah dan tidak, kemudian bagi lagi sampai penyebab masalah diidentifikasi sehingga solusi daoat diajukan. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan apakah ada yang secara sengaja melakukan perubahan pada perangkat operasi. Membuat rekam historis (timeline) sejak proses menjadi tidak normal dapat bermanfaat dalam mengidentifikasi kapan perangkat mulai mengalami perubahan yang mungkin terjadi.
  4. Menentukan informasi yang memadai: menentukan apakah informasi yang ada dapat merujuk pada solusi tertentu, jika tidak kembali ke proses ke-2 dan mengumpulkan informasi yang lebih relevan.
  5. Pengajuan solusi
  6. Pengujian solusi: Jika pengujian berhasil, maka masalah sudah terselesaikan. Jika tidak, kita ulangi lagi langkah ke-3 untuk melihat apakah terdapat kesalahan pada analisis yang dilakukan. Pada kejadian yang memungkinkan terdapat beberapa solusi yang memungkinkan, operator harus menentukan solusi mana yang akan dicoba terlebih dahulu.
  7. Implementasi solusi

Sangat diharapkan bahwa troubleshooting, perbaikan, dan normal-nya operasi dapat dilakukan pada waktu yang tepat. Keterlambatan dalam penyelesaian masalah akan berdampak pada kemungkinan meningkatnya tingkat keparahan masalah/gangguan, dalam kasus terburuk adalah mengancam keselamatan pekerja.